Sunday, December 9, 2018

Kepemimpinan Perempuan

Isu kesenjangan gender merupakan isu yang sangat kompleks dan tidak pernah selesai dianggap sebagai masalah. Hingga saat ini perbedaan kedudukan perempuan dan laki-laki masih dapat ditemukan, tidak terkecuali dalam pemerintahan, dan juga di lembaga-lembaga swasta. Terlebih dalam hal kepemimpinan, perempuan masih berada dibawah jumlah laki-laki yang berperan sebagai pemimpin. Hal ini terbukti dengan Indeks Kesenjangan Gender (IKG) yang diliput media cetak Kompas tanggal 31 agustus 2017 menunjukan bahwa Indonesia berada pada peringkat 105 dari 188 negara di dunia. Peringkat tersebut salah satunya dinilai dari jumlah perempuan di kursi di parlemen, dan partisipasi angkatan kerja secara formal maupun informal masih sangat sedikit.
Fakta lain menunjukan bahwa jumlah perempuan sebagai pemimpin dalam birokrasi masih sangat rendah. Sebagai contoh pada tahun 2017 di Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur terdapat 35 orang kepala desa perempuan dari 462 Desa. Dengan demikian, jumlah kepala desa perempuan hanya 8%. Budaya patriarkhi masih kental dalam masyarakat indonesia. Perempuan hanya diperbolehkan memainkan peran domestik seperti urusan dalam internal rumah tangga. [1]
Kondisi seperti diatas ternyata tidak hanya ditemukan di daerah pedesaan, namun juga terjadi di daerah perkotaan. Ditingkat kelurahan yang merupakan level terendah pemerintahan di daerah perkotaan seperti di DKI, jumlah perempuan juga sedikit. Data menunjukan bahwa jumlah Lurah perempuan di Provinsi DKI dari seluruh jumlah Lurah 267 menunjukan angka 20%, yang artinya bahwa masih rendah dibandingkan dengan jumlah Lurah laki-laki yang berjumlah 80%. [2] 
Pembedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan tidak ditentukan karena keduanya terdapat perbedaan biologis atau kodrat, melainkan dibedakan menurut kedudukan, fungsi, dan peranan masing-masing dalam kehidupan sosial budaya. Perbedaan itu disebut gender, yang dapat diartikan secara umum sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai tingkah laku. Aspek yang membedakan perempuan dan laki-laki tersebut seringkali menjadi patokan masyarakat dalam menentukan pemimpinnya.

Belajar dari Tokoh Perempuan Desa

Temuan dari penelitian Inovasi Untuk Mewujudkan Desa Unggul dan Berkelanjutan tahun 2017 oleh Tim Peneliti Universitas Katolik Parahyangan Bandung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan Lokus Penelitian di Desa Buluh Duri, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberhasilan pemimpin kepala desa perempuan terletak pada gaya kepemimpinan yang mampu memberdayakan masyarakat. Dalam penelitian ini, gaya kepemimpinan ibu Dewi Purba selaku Kepala desa perempuan yang menjabat sejak 2007 sampai sekarang menunjukan gaya kepemimpinan yang demokratis dengan pendekatan  situasional untuk bisa membentuk masyarakat yang maju, mandiri, berpartisipasi, dan sejahtera melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal dan kerjasama antar lembaga lain sebagai peluang untuk mewujudkan inovasi pembangunan.
Selanjutnya dari penelitian yang sama, dengan lokus penelitian disebuah desa pesisir Kabupaten Bone, Kecamatan Awangpone, yakni Desa Mallari. Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa perempuan pertama yang terpilih karena politik dinasti, yakni ibu Andi Wahyuni. Walaupun demikian,  beliau memiliki pendekatan yang baik dengan masyarakat lewat blusukan ke rumah-rumah warga untuk mengetahui gambaran nyata mengenai kondisi kehidupan masyarakat. Selain pendekatan yang baik dengan masyarakat, kepala desa perempuan tersebut berorientasi pada isu-isu inklusif dalam kepemimpinannya.
Dari temuan diatas membuktikan bahwa “atribut natural perempuan yang sensitif, intuitif, empati, suka merawat, mampu bekerjasama, dan mengakomodasi dapat menjadikan proses-proses organisasi menjadi efektif (Growe, 1999)”. Dan sekaligus menunjukan kepada kita bahwa perempuan dalam kepemimpinanya mampu mencapai prestasi yang lebih berhasil ataupun gemilang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Hal tersebut misalnya disebabkan adanya dukungan kemampuan dalam hal pendidikan, pengalaman berorganisasi dan motivasi dari kaum perempuan itu sendiri.
Barangkali isu tentang perempuan hari-hari ini sudah tidak hangat diperbincangkan, akan tetapi perlu kita ketahui bahwa disekeliling kita acap kali muncul perbedaan perspektif tentang perempuan dalam kepemimpinannya.
Semoga dengan tulisan ini kita semakin diantarkan pada cara pandang keadilan dan kesetaraan bagi siapapun.

[1] Data diolah berdasarkan sumber yang diperoleh dari website pemerintah setempat http://lamongankab.go.id/bag-pemdes/2017/01/18/1458/; diakses pada tanggal 07 November 2017 Pukul 13.13 WIB
[2] Data diolah berdasarkan sumber yang diperoleh dari website pemerintah setempat http://data.jakarta.go.id/dataset/data-lurah-di-lingkungan-pemerintah-provinsi-dki-jakarta,,,,,, diakses pada tanggal 07 November 2017 Pukul 14.50 WIB

Thursday, December 6, 2018

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

1. hakekat pertumbuhan dan perkembangan serta fase-fase perkembangan individu
   
pertumbuhan adalah perubahan yang bersifat kuantitatif yang menyangkut ukuran dan struktur biologis,misalnya bayi yang beratnya 5kg berubah menjadi 6,5 kg.perkembangan adalah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada fungsi organ-organ jasmani, misalnya pematangan sel ovum dan sperma, pematangan hormon-hormon dalam tubuh. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu kecerdasan,tempramen, dan interaksi keturunan lingkungan dan perkembangan. menurut Sntrock dan Yusse terbagi lima fase yaitu fase pranatal,fase bayi, fase kanak-kanak awal, fase kanak-kanak tengah dan akhir, dan fase remaja

2. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan, yaitu :

a. faktor genetik (hereditas), hereditas merupakan kualitas genetik yang diwarisi dari orang tua biologis saat pertumbuhan.
b. faktor lingkungan, faktor lingkungan adalah segala keseluruhan fenomena yang diulai dari dalam kandungan, dan pembelajaran yang didapati dari penglaman.
c. lingkngan internal, lingkungan internal yang dimaksud adalah inteligensi, hormon, emosi.
d. kematangan tubuh dan otak, kematangan tubuh dan otak merupakan terbukanyan tahapan alamiah perubahan fisik dan pola perilaku, termasuk didalamnya kesiapan untuk menguasai suatu kemampuan baru.

3. remaja karakteristik pertumbuhan dan perkembangan implikasinya dalam pendidikan

remaja dalam bahasa aslinya, berasal dari bahsa adolescere yng artinya "tumbuh atau tumbuh untuk mencapai ketenangan". masa remaja menurut Mappiare 1982 berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai dengan 22 tahun bagi pria. beberapa hal yang terjadi selama masa remaja yaitu  peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa stom&stress, dan perubahan yang cepat secara fisik yang juga dosertai kematangan seksual, perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan orang lain, perubahan nilai, remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi.

4. masa kanak-kanak awal

masa kanak-kanak awal (2-6 tahun) merupakan masa-masa emas karena pada masa ini anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. baik itu perkembangan secara fisik maupun perkembangan nonfisik, seperti perkembangan intelektual,emosional, kepribadian, moral. anak lebih banyak bertanya dan ingin mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui sebelumnya. pada masa ini orang tua, lingkungan, teman sebaya, serta guru sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak.




Perkembangan dan pertumbuhan anak merupakan hal yang penting untuk kita pelajari dan kita pahami selaku calon pendidik. Banyak para pendidik yang belum memahami perkembangan - perkembangan anak. Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem pembelajaran tanpa melihat perkembangan anak didiknya. Hal ini akan berakibat adanya ketidakseimbangan antara system pembelajaran dengan perkembangan anak yang akan menyulitkan anak didik mengikuti system pembelajaran yang ada. Dengan mengetahui proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik kita akan mudah mengetahui system pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan perkembangan anak didik. 

Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi - generasi masa depan yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang perkembangan dan pertumbuhan anak didik. Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan mengetahui dan memahami perkembangan dan pertumbuhan peserta didik.

Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung sevara normal pada anak yang sehat.
Perkembangan adalah psikofisik sebagai hasil pematangan fungsi fisik dan psikis yang ditunjang oleh lingkunag dan belajar

Anak Sebagai Suatu Totalitas

Sebagai subjek studi psikologi perkembangan, konsep anak sebagai totalitas mempunyai arti bahwa terdapat keterkaitan antara aspek fisik dan psikis yang terdapat dalam dirinya dan secara terintegrasi saling terjalin dan memberi dukungan fungsional satu sama lain. Sebagai contoh, anak yang sedang sakit bisa tidak berselera makan; anak yang sedang ketakutan bisa kesulitan untuk tidur; anak yang sedang semangat dan aktif melakukan sesuatu akan menjadi aktif pula mentalnya. Segala aktivitas yang melibatkan fisik anak selalu mempengaruhi psikis anak, begitu juga sebaliknya.

Perbedaan antara anak dan orang dewasa tidaklah terbatas pada fisiknya, melainkan secara keseluruhan. Sebagai contoh, pertumbuhan anak lebih pesat dibandingkan orang dewasa. Anak cenderung lebih bersifat egosentrik ( sifat yang berpusat / berstandar pada diri sendiri ), sedangkan orang dewasa lebih bersikap sosial dan empatik ( menempatkan dirinya pada posisi orang lain dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ). Daya pikir anak juga masih terbatas pada hal - hal yang konkrit, sedangkan orang dewasa sudah mampu berfikir secara abstrak dan universal.

Perkembangan Sebagai Proses Holistik Seluruh Aspek Perkembangan

Perkembangan merupakan suatu proses yang melibatkan keseluruhan aspek yang saling keterkaitan satu dengan yang lain.
Proses perkembangan individu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu proses biologis, kognitif dan psikososial.
1. Proses biologis, mencakup perubahan - perubahan fisik individu yang bersifat alami, bukan karena kecelakaan, sakit atau peristiwa - peristiwa lainnya. Misal, pertumbuhan otak, sistem syaraf, hormone, keterampilan motorik, perkembangan seksual, perubahan penglihatan dan lain sebagainya.

2. Proses kognitif, melibatkan perubahan - perubahan kemampuan berfikir, berbahasa dan cara memperoleh pengetahuan dari lingkungan. Perkembangan kognitif dan pengalaman belajar sangat berkaitan dan saling mempengaruhi. Perkembangan kognitif anak akan menfasilitasi dan membatasi kemampuan belajar anak, begitu juga sebaliknya.

Namun, dengan keterkaitan tersebut, ada perbedaan diantara keduanya. Perkembangan kognitif mengacu pada perubahan - perubahan kemampuan berfikir, dan berbahasa serta terjadi dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan kemampuan belajar lebih cenderung mengacu pada perubahan - perubahan dari hasil pengalaman atau peristiwa yang lebih khusus, serta terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

3. Proses psikososial, melibatkan perubahan - perubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu, perkembangan identitas diri, pola hubungan dengan anggota keluarga, teman, guru dan yang lainnya.

Proses pertumbuhan biologis, kognitif dan psikososial saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, anak yang mengalami gangguan pada otaknya, akan mengalami keterlambatan dalam berfikir, yang kemudian bisa mempengaruhi perkembangan psikososialnya.

Kematangan dan Pengalaman dalam Perkembangan Anak

Kematangan merupakan fase perubahan yang dialami oleh individu karena pengaruh genetic dan berlangsung secara bertahab.

Pengalaman merupakan peristiwa - peristiwa yang dialami oleh individu dalam kehidupannya sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya.

Para ahli berpendapat bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh genetik atau warisan biologis.
Para ahli lain mengatakan bahwa pengalaman lingkunganlah yang paling berperan dalam perkembangan anak.
Ada pula ahli yang mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak adalah faktor genetik dan faktor lingkungan pergaulan.
Sebagai contoh, kecerdasan seseorang bisa merupakan warisan yang diturunkan dari orang tuanya, bisa pula karena diperoleh dari lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang.

Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan

Banyak para ahli yang memperdebatkan masalah perkembangan merupakan kontinuitas atau diskontinuitas.

Para ahli yang berpandangan pada unsur kematangan, menganggap bahwa perkembangan itu diskontinuitas atau tidak berkesinambungan. . Proses perkembangan individu terjadi dalam tahap - tahap yang berbeda, perubahan - perubahannya relatife tiba - tiba dan terjadi perubahan atau peralihan secara tajam dari tahap yang satu ke tahap perkembangan selanjutnya.

Para ahli yang mendukung pandangan diskontinuitas beranggapan bahwa perkembangan dipengaruhi oleh faktor - faktor internal biologis.
Sedangkan para ahli yang menekankan pada pengalaman ( lingkugan ) berpendapat bahwa perkembangan itu terjadi secara berkesinambungan ( kontinuitas ) dari masa konsepsi dampai akhir hayat.

Dalam proses perkembangan yang kontinuitas, terjadi perbaikan, penambahan dan atau penurunan sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.
Emde dan Harmon ( Vasta, Haith & Miller, 1992 ) mengatakan bahwa persoalan kontinuitas dan diskontinuitas melibatkan dua komponen.

Pola - Pola Perkembangan

Para ahli kontinuitas beranggapan bahwa perkembangan itu terjadi secara halus dan stabil melalui penambahan dan atau peningkatan yang bertahap dalam hal abilitas ( kemampuan, kepandaian, kecakapan ), keterampilan dan atau pengetahuan baru pada suatu langkah yang relatif sama. Sedangkan ahli diskontinuitas beranggapan bahwa perkembangan terjadi pada periode - periode kecepatan yang berbeda, antara yang sedikit perubahannya dengan yang tajam dan cepat perubahannya.

Keterkaitan Perkembangan

Para ahli kontinuitas berpendapat bahwa perkembangan - perkembangan yang terjadi saling berkaitan. Perilaku - perilaku awal akan berpengaruh dan membentuk perilaku - perilaku selanjutnya.

Sebaliknya, para ahli diskontinuitas berpendapat bahwa perkembangan yang terjadi muncul secara independent ( berdiri sendiri ) dari yang sebelumnya dan tidak dapat diprediksi dari perilaku - perilaku sebelumnya.

Faktor Hereditas dan Lingkungan dalam Perkembangan Anak. 

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk - makhluk lainnya. Manusia memiliki potensi untuk berkembang dan meningkatkan kehidupannya baik secara fisik maupun psikis.
Ada dua faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan individu.
1. Faktor hereditas yang bersifat alamiah dan diwariskan oleh orang tua. Pada faktor hereditas terdapat gen yang merupakan sifat bawaan yang nantinya akan ditularkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya.

Pertama gen - gen dominant-resesif, yakni apabila gen dari suatu pasangan bersifat dominant dan yang satu bersifat resesif, maka yang dominant itulah yang nantinya akan tertanam dalam diri individu tersebut.
Kedua pewarisan poligenik. Sebenarnya, dalam satu sel terdapat banyak gen yang akhirnya menghasilkan karakteristik yang berbeda - beda. Karena beberapa karakteristik psikologi merupakan hasil dari pasangan - pasangan tunggal, sedangkan kebanyakan ditentukan oleh interaksi dari banyak gen yang berbeda.

2. Faktor lingkungan sebagai kondisi atau pengalaman - pengalaman interaksional yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan.

Misal, di dalam keluarga, setiap anak mempunyai karakter dan pengalaman yang berbeda - beda. Tergantung dari perlakuan orang tua kepada setiap anak - anaknya, dan pergaulan dari masing - masing anak. Hal ini menandakan bahwa faktor lingkungan juga turut mempengaruhi perkembangan individu.

Perkembangan Fisik dan Perseptual Anak Sekolah Dasar

Masa usia sekolah merupakan masa dimana anak mulai memasuki dunia pendidikan formal, yakni sekolah. Sekolah Dasar merupakan pendidikan formal pertama yang berfungsi sebagai pembuka jalan bagi anak untuk mengembangkan potensi dan kemampuan anak serta memudahkan mereka dalam meraih mimpi yang mereka harapkan untuk masa depannya nanti. Serta sebagai jembatan pertama untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Usia anak sekolah dasar berkisar antara 6 - 12 tahun.

- Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik pada anak memiliki karakteristik yang berbeda baik sebelum maupun sesudah anak-anak. Perkembangan fisik pada anak usia sekolah dasar perlu dipelajari dan dipahami oleh setiap guru, karena dipercaya bahwa segala aktivitas-aktivitas belajar dan aktivitas-aktivitas yang menyangkut mentalnya serta pembentukan kepribadian dipengaruhi oleh kondisi dan pertumbuhan fisik

Anak - anak dan orang dewasa mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik maupun psikisnya. Dilihat dari segi fisik misalnya berat badan, tinggi badan, proporsi dan bentuk tubuh. Sedangkan dari segi psikisnya misal, sifat, tingkah laku dan pola pikir.

- Perseptual Anak

Sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas bahwa perceptual anak menekankan pada aspek luar ( lingkungan ) sebagai hasil dari rangsangan alat indra. Semua keadaan dan peristiwa - peristiwa yang ada di lingkungan ditangkap oleh alat - alat indra yang kemudian disalurkan ke otak melalui syaraf sensorik, sehingga segala informasi yang ada di lingkungan dapat diterima dan diketahui oleh alat - alat indra ( penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa/sentuhan ). Tanpa alat indra, otak kita akan terasa asing dengan keadaan lingkungan yang ada disekitar.

Penerapan Faktor Perkembangan dalam Pembelajaran

Perkembangan fisik anak terus berlangsung pada masa usia sekolah dasar, meskipun tidak sepesat pada masa usia dini. Begitu pula dengan penajaman dan penghalusan perkembangan perceptual anak.

Penyelenggaraan pembelajaran yang “hidup” dan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan fisik anak sangatlah dibutuhkan untuk memfungsikan unsure - unsure fisik dan atau aspek - aspek perseptualnya.

Cara pembelajaran yang diharapkan antara lain : bersifat langsung, tersusun secara fleksibel, tidak monoton dan verbalistik, memperhatikan perbedaan individu, menyajikan aktivitas yang bervariasi seperti eksperimen, praktek, observasi secara langsung, permainan dan sejenisnya, serta menggunakan berbagai media dan sumber belajar.

Cara ini tidak hanya akan memunculkan kegemaran dalam belajar, tetapi juga memberikan hal - hal yang positif, aspek kognisi dan kreativitas, fisik-perseptual, dan sosial.


Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/makalah-perkembangan-peserta-didik/
http://enikekawati.student.fkip.uns.ac.id/2010/05/12/perkembangan-peserta-didik/

bisa juga dapat dilihat di link berikut ini : http://cheesterzone.blogspot.com/2011/04/perkembangan-peserta-didik.html

Monday, December 3, 2018

Mengenal Manajemen Pendidikan

Apa itu Manajemen Pendidikan?


Program studi Manajemen Pendidikan bertujuan mencetak para lulusan yang menguasai bidang perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan aset, infrastruktur, dan jalannya proses pendidikan. Manajemen pendidikan relevan untuk lembaga pendidikan di bawah pemerintah atau swasta. Para mahasiswa program studi ini akan mendapatkan pembelajaran dan pelatihan di bidang manajemen pendidikan, dari teori, praktek, sampai penelitian. Para mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan mempelajari kebijakan pendidikan, manajemen dan pengembangan SDM, manajemen keuangan, teknologi informasi, dan pengembangan kurikulum. Mahasiswa program studi ini juga dituntut untuk terbiasa berpikir kritis dan taktis.


Prospek Kerja Jurusan Manajemen Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, kesempatan berkarier di manajemen pendidikan sangat besar. Kelancaran proses belajar mengajar dalam suatu lembaga pendidikan atau sekolah sangat ditentukan oleh manajemen di lembaga pendidikan itu sendiri, yang mengelola semua aspek fisik dan non fisik di sekolah. Prospek yang ditawarkan untuk lulusan Manajemen Pendidikan antara lain adalah sebagai staf dan/atau manajer administrasi di lingkungan sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan lainnya, baik milik pemerintah maupun milik swasta. lulusannya juga dapat berkarir sebagai konsultan pendidikan,




Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkansuasana belajar & proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinyauntuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.A. Definisi Manajemen PendidikanBatasan manajemen pendidikan dapat diambil berdasarkan pendekatanPendekatan pertamamenganggap manajemen pendidikan sebagai cabang ilmu manajemen, sehingga batasannnya adalah senidan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaranagar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirnya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian dirikepribadiankecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yandiperlukan dirinya,masyarakatbangsa dan negara. Adapun secara proses, manajemen pendidikan didefinisikan sebagaiproses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian sumber daya pendidikan untukmencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Bila dikaji dengan pendekatan struktur atau tugasnya,maka manajemen pendidikan diartikan sebagai manajemen peserta didik, kurikulum, tenaga pendidik, dankependidikankeuanganfasilitas, hubungan lembagdengan masyarakatpengorganisasian,ketatalaksanaan, dan supervisi pendidikan (Husaini Usman, 2004: 12). Sedangkan menurut Usman (2009)manajemen pendidikan dapat diartikasebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untukmencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.B. Tujuan dan Manfaat Manajemen Pendidikan1.Terwujudnya PBM yang PAKEMB (bermakna)2.Peserta didik yang aktif mengembangkan dirinya3.Memiliki kompetensi manajerial4.Tercapai tujuan pendidikan secara efektif & efisien5.Teratasinya masalah mutu pendidikan6.Perencanaan pendidikan merata, bermutu, relevan & akuntabel7.Meningkatnya citra positif pendidikanC. Fungsi Manajemen PendidikanAda banyak pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen, diantaranya yaitu Terry yang menyatakanterdiri atas:1.Plannin(perencanaan), yakni menentukan garisgaribesauntudapat memulausahyangterdiri atas apa yang akan dicapai, bagaimana mencapainya, kapan, dan lain sebagainya.2.Organizing (menyusun), yakni rangkaiakegiatan yandiperlukan untuk mencapatujuansebagaimana telah ditetapkan dalam perencanaan.3.Actuating (menggerakkan untuk bekerja/pelaksanaan), untuk melaksanakan kegiatan atau aktivitaspencapaian tujuan.4.Controllin(pengawasan), yakni kegiatan dalam rangka memeriksa hal-hal apyantelahdilakukan memastikaapakah pekerjaan telah berjalan sebagaimana mestinyaserta mengetahuihambatan- hambatan yang menghalangi tercapcainya tujuan.Pendapat lainnya dalah Fayol yang merumuskan fungsi manajemen sebagai to plan, to organize, tocommand, to coordinate, dan to control. Adapula pendapat dari Gullick yang merumuskan fungsimanajemen secara lebih detil lagi, yakni dengan planningorganizing, staffingdirecting, coordinating,reporting, budgeting (Hartati Sukirman, 1999: 5). Namun demikian, pada prinsipnya fungsi-fungsi yangdipaparkan para pakar tersebut memiliki benang merah yang sama. Hanya saja, masing-masing dari


mereka memiliki pengembangan yang sedikiberbedyang tujuannymempermudahpengimplementasian ilmu manajemen di dunia nyata.Peranan Manajemen PendidikanMenurut Husaini Usman (2004: 13), manajemen pendidikan selaku rangkaian kegiatan pengelolaan dibidang pendidikan, berperan dalam:
1.
Tertunjangnya suasana PBM2.Tertunjangnya profesi tenaga pendidik3.Tercapainya tujuan secara efektif dengan sumber daya terbatas4.Tertunjangnya profesi administrator pendidikanKegiatan manajemen pendidikan akan sangat menunjang kelancaran PBM, baik ditilik dari segi fasilitas,administrasi kelas, dan lain sebagainya. Adapun bagi tenaga pendidik atau guru, tugas mereka bukanlahsekedar sebagapemberi materterhadapeserta didikGurjuga hendaknya memiliki kompetensimelakukan tugas-tugas administrative atau manajerial. Bagaimanapun jugakegiatapbm tidadapatterlepas dari rangkaiamanajemen pendidikan. Peranan manajemen pendidikan lainnya adalah dalampencapaian tujuan secara efektif dengan sumber daya terbatas. Akibat dari kelangkaan, maka manusiadituntut mampu mengelola sumber daya agar tidak menjadi kendala pemanfaatan sumber daya itu sendiri.Bagadministratoatau manajer pendidikan, tentu saja peranan manajemen pendidikan sangat berlaku,karena sesuai dengan tugas mereka yang harus mampmengelola sumber daya-sumber daya yang terbtasguna menunjang tercapainya tujuan pendidikan.I.Ruang Lingkup Manajemen PendidikanBidang garapan atau ruang lingkup yang terdapat dalam manajemen pendidikan meliputi :1.Manajemen peserta didikPeserta didik selaku input dalam lembaga pendidikan merupakanpusat dari seluruh kegiatan dalammanajemen pendidikan. Oleh karenanya peserta didihendaknya menjadi prioritautamdalampengambilakebijakan di bidang pendidikan. Kegiatayantermasudalabidang ini adalahpencatatan peserta didik mulai dari saat penerimaan sampai dengan keluarnya dari sekolah.2.Manajemen tenaga kependidikanManejemen tenaga kependidikan adalah segenap proses penataan pegawai yang meliputi semuaproses atau cara memperoleh pegawai, penempatan dan penugasan, pemeliharaan dan pembinaan,evaluasi, sampai pada pemutusan hubungan kerja.3.Manajemen KurikulumManajemekurikuluadalah segenaproses usaha bersama untumemperlancapencapaiantujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi pbm.4.Manajemen fasilitas pendidikanManajemefasilitas pendidikan adalah segenaproses penataayang bersangkut paudenganpengadaanpendagunaan, dan pengelolaasarana pendidikan agatercapatujuan yang telahditetapkan secara efektif dan efisien
5.Manajemen Pembiayaan Pendidikan

Manajemepembiayaan pendidikan merupakan kegiatapengelolaayang meliputpenataansumber, penggunaan, dan pertanggungjawaban dana pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikanpada umumnya6.Manajemen Hubungan Lembaga Pendidikan dengan MasyarakatMasyarakat merupakan laboratorium pendidikan yang tidaternilai harganya. Masyarakat jugamerupakan stakeholder pendidikan, dimana keberlangsungan proses pendidikan juga bergantungpada masyarakat. Untuk itu, lembaga pendidikan tidak dapat terlepas dari masyarakat baik secaralangsung maupun tidak langsung. Manajemen hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakatmerupakan kegiatan penataayang berkaitadengan kegiatan hubungan sekolah denganmasyarakat untuk menunjang pbm di sekolah7.Manajemen Organisasi Lembaga PendidikanDalam setiap organisasi pastilah terdapat struktur tugas dan berbagai macam konsekuensi akibatadanya pembidangatugatersebut. Hal inilah yang menjadi garapan manajemen organisasilembaga pendidikanyaitu segenap kegiatan mengorganisasikalembagpendidikan yang termasukdiantaranya adalah pengelolaan fungsi kepemimpinan8.Manajemen Ketatalaksanaan dan Sistem Informasi Lembaga PendidikanKegiatapencatatan berakibapadperlunypenataadata atau informasi, agapadsaaatinformasi tersebudiperlukan dapadiperoledengan mudah, cepatdatepatManajemenketatalaksanaan dan Sistem informasi Lembaga Pendidikan berupaya untuk mencapai hal tersebut,dengan kegiatan yang meliputi pencatatan, pengolahan, penggandaan, pengiriman, dan penyimpanansemua bahan atau informasi yang temasuk dalam data lembaga pendidikan9.Supervisi PendidikanKehadiran supervisi pendidikan diharapkan membantu tercapainya tujuan pendidikan secara efisien,khususnymelalui pembinaan profesionalitas guruNamun trend pendidikan terakhir tidaselalumengartikan supervisi pendidikan memiliki sasaran satu-satunyberupa gurumelainkajugamelibatkan tenaga-tenaga kependidikan lainnya. Batasan supervisi pendidikan yang selama ini akrabadalah suatu usahuntumemberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki situasi belajar mengajar dan pada kenyataannya kelancaran pbm tidak semata bergantung pada guru melainkanpula tenaga kependidikan lainnya.